•  

Our Top Course
Pengembangan Media Foto
( 16 Sections)
 
Komunikasi Pembelajaran
( 16 Sections)
 

Profil Program Studi D4 Tata Busana Unesa

 
Program Studi  :  D4 Tata Busana
Tanggal Berdiri  :  18 Oktober 2019
Koordinator Program Studi  :  IRMA RUSSANTI
Visi Misi & Tujuan Program Studi D4 Tata Busana
Universitas Negeri Surabaya
Visi
Menjadi kelompok bidang keilmuan terapan unggul dalam pengembangan desain mode berbasis produksi, tekstil dan budaya lokal, serta kewirausahaan yang menerapkan teknologi untuk mendukung perkembangan industri fesyen kreatif berkelanjutan.
Misi
  1. Menyelenggarakan pendidikan vokasi di bidang desain mode berbasis produksi busana, tekstil, budaya lokal, kewirausahaan, teknologi, dan prinsip keberlanjutan untuk menghasilkan sarjana terapan yang kompeten, tangguh, adaptif, inovatif, berkarakter, dan berjiwa wirausaha.
  2. Menyelenggarakan penelitian terapan di bidang desain mode, produksi busana, tekstil, dan budaya lokal melalui pemanfaatan teknologi untuk menghasilkan produk, dan model bisnis inovatif yang mendukung perkembangan industri fesyen kreatif berkelanjutan.
  3. Menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan dan penyebarluasan hasil pendidikan, penelitian, inovasi teknologi, serta kewirausahaan untuk memberdayakan masyarakat, UMKM, dan pelaku industri fesyen berkelanjutan berbasis budaya lokal.
  4. Membangun kemitraan strategis dengan DUDIKA serta institusi nasional dan internasional dalam pengembangan pendidikan, penelitian terapan, pengabdian kepada masyarakat, dan inovasi desain mode yang mendukung industri fesyen kreatif berkelanjutan berbasis budaya lokal.

Tujuan
  1. Menghasilkan sarjana terapan bidang desain mode yang kompeten, tangguh, adaptif, inovatif, berkarakter, dan berjiwa wirausaha serta mampu menerapkan teknologi dan prinsip keberlanjutan dalam produksi busana, tekstil, dan pengembangan budaya lokal sesuai kebutuhan DUDIKA.
  2. Menghasilkan penelitian terapan, produk, teknologi, dan model bisnis inovatif di bidang desain mode, produksi busana, tekstil, dan budaya lokal yang mendukung perkembangan industri fesyen kreatif berkelanjutan.
  3. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, UMKM, dan pelaku industri fesyen melalui penerapan dan penyebarluasan hasil pendidikan, penelitian, inovasi teknologi, kewirausahaan, dan praktik fesyen berkelanjutan berbasis budaya lokal.
  4. Mewujudkan kemitraan strategis dan berkelanjutan dengan DUDIKA serta institusi nasional dan internasional dalam bidang pendidikan, penelitian terapan, pengabdian kepada masyarakat, dan inovasi desain mode.

Capaian Lulusan Program Studi D4 Tata Busana
Universitas Negeri Surabaya
CPL-1 Mampu menunjukkan nilai-nilai agama, kebangsaan dan budaya nasional, serta etika akademik dalam melaksanakan tugasnya

CPL-2 Menunjukkan karakter tangguh, kolaboratif, adaptif, inovatif, inklusif, belajar sepanjang hayat, dan berjiwa kewirausahaan

CPL-3 Mengembangkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan kreatif dalam melakukan pekerjaan yang spesifik di bidang keahliannya serta sesuai dengan standar kompetensi kerja bidang yang bersangkutan
Dibebankan pada matakuliah:

CPL-4 Mengembangkan diri secara berkelanjutan dan berkolaborasi.

CPL-5 Mampu memanfaatkan ipteks dan memiliki konsep teoritis secara mendalam tentang fashion design meliputi tekstil, desain, produksi dan kewirausahaan serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah procedural.
Dibebankan pada matakuliah:

CPL-6 Mampu mengaplikasikan berbagai teknik membuat dan menghias bahan tekstil yang inovatif serta mempresentasikannya

CPL-7 Mampu merancang dan mengembangakan koleksi busana yang koheren dan sesuai tema

CPL-8 Mampu mengaplikasikan berbagai teknik pembuatan pola dan teknologi menjahit dalam pembuatan busana sesuai standar industri

CPL-9 Mampu mengembangkan bisnis industri kreatif bidang fashion dan beradaptasi terhadap situasi pasar global

CPL-10 Mampu menggembangkan riset, prototipe, proyek atau bentuk lainnya di bidang fashion desain
Dibebankan pada matakuliah:

Profil Lulusan Program Studi D4 Tata Busana
Universitas Negeri Surabaya
  • Fashion Designer

    Memiliki kemampuan menetukan segmentasi pasar, meneliti tren mode, membuat perencanaan koleksi, membuat eksperimen dan olah bahan untuk menghasilkan rancangan busana yang original, yang dapat bekerja pada brand/label sendiri atau bekerja di industri fashion, atau sebagai freelance fashion desainer.

  • Fashion Entrepreneur

    Memiliki kemampuan mengatur dan mengelola brand/label sendiri untuk jasa/ produk fashion, baik dalam proses produksi, pemasaran, mengelola keuangan, dan aktivitas bisnis lainnya.


Struktur Kurikulum D4 Tata Busana
Universitas Negeri Surabaya

Kurikulum 2026 D4 Tata Busana

Semester ke 1

Kode Mata Kuliah SKS Wajib?
100000202x Pendidikan Agama (Wajib memilih salah satu)
    -  Agama Budha
    -  Agama Hindu
    -  Agama Islam
    -  Agama Katholik
    -  Agama Khonghucu
    -  Agama Protestan
2.00
1000002177 BAHASA INGGRIS 2.00

Semester ke 2

Kode Mata Kuliah SKS Wajib?
1000002046 LITERASI DIGITAL 2.00
1000002018 PANCASILA 2.00

Semester ke 3

Kode Mata Kuliah SKS Wajib?
1000002003 BAHASA INDONESIA 2.00
1000002047 PENDIDIKAN JASMANI DAN KEBUGARAN 2.00

Semester ke 4

Kode Mata Kuliah SKS Wajib?
1000002033 KEWARGANEGARAAN 2.00
1000002176 KEWIRAUSAHAAN 2.00
Evaluasi Kurikulum Program Studi D4 Tata Busana
Universitas Negeri Surabaya

Evaluasi kurikulum Program Studi Sarjana Terapan (D4) Tata Busana dilaksanakan melalui kegiatan restrukturisasi kurikulum pada 12–13 Juni 2024 dengan menghadirkan Dr. Ir. Syamsul Arifin, M.T. sebagai narasumber ahli kurikulum untuk memberi masukan penguatan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) serta penyelarasan visi, profil lulusan, CPL, dan struktur mata kuliah dengan kebutuhan industri fashion dan ekonomi kreatif. Kegiatan ini dihadiri oleh  tim pengembang kurikulum dan para dosen, serta stakeholder industri, dan alumni, yaitu:  Dr. Irma Russanti, S.Pd., M.Ds. (Koordinator Prodi), serta tim pengembang kurikulum Indarti, S.Pd., M.Sn. selaku ketua tim, Dra. Urip Wahyuningsih, M.Pd. wakil ketua; Dr. Wendy Ivannal Hakim, S.T., M.Ars sekretaris. Para Dosen yang hadir Dra. Yulistiana, M.PSDM, Dr. Ratna Suhartini, M.Si, Dr. Yuhri Inang Prihatina, S.Pd., M.Sn.. Kegiatan juga melibatkan para stakeholder sebagai pengguna lulusan, yaitu Yunita Kosasih (Owner Rumah Mode Yunita Kosasih & Ketua IFC), Alben Ayub Andal, Elivati Zumrotul Fauqo, Sutanto Danuwijaya, Yussi Martha (Owner Brand Yuma & Ketua Etnura), Lily Yang (Deritz Bridal), Ester Christiani Jean (Byestherjean Bridal), Patricia Leona (Leona Atelier), Ayu Wulan (Whulyan Attire), Shanty Tuakiza (Brand Rasyida Alam), dan Silfyana Cahya Manggar (Butik Batik Manggar). Reskruturisasi juga dihadiri oleh alumni D4 Tata Busana yaitu Hendhy Setiawan. 

Berdasarkan hasil FGD (Forum Group Discussion) menghasilkan restrukturisasi yang menegaskan bahwa kurikulum D4 Tata Busana pada prinsipnya telah sejalan dengan profil lulusan Fashion Designer dan Fashion Entrepreneur, karena capaian pembelajaran dan sebaran mata kuliah telah mengarah pada kemampuan merancang koleksi, memahami segmentasi pasar, serta mengelola brand dan bisnis fashion. Namun demikian, forum juga menekankan perlunya penguatan pengalaman industri melalui durasi magang atau PKL yang lebih lama, mengingat dinamika kerja di lapangan sering kali berbeda dengan pembelajaran di kampus. Selain itu, sebagai diferensiasi dan identitas akademik prodi, diperlukan pendalaman seni dan budaya lokal agar proses desain dan pengembangan produk fashion tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memiliki kekhasan lokal yang kuat serta relevan dengan konteks industri kreatif.

Pada aspek Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), hasil evaluasi menunjukkan perlunya penguatan pada beberapa kompetensi inti yang langsung berdampak pada kesiapan kerja lulusan, yakni R&D tren dan pasar (agar mahasiswa lebih mampu membaca peluang dan menghasilkan desain yang kohesif serta marketable), peningkatan keterampilan manipulating fabric dan teknik menghias tekstil (karena di praktik industri kemampuan ini masih dinilai kurang), serta penguatan teknologi menjahit berbasis standar industri. Tindak lanjutnya tercermin pada penyesuaian struktur mata kuliah, misalnya pembaruan penamaan agar selaras praktik internasional (sejarah mode menjadi Fashion History), penguatan mata kuliah digital seperti CAD termasuk usulan penambahan CLO, serta integrasi materi ragam hias/kriya tekstil ke dalam pembelajaran manipulating fabric agar lebih aplikatif. Selain itu, untuk menjawab kebutuhan industri yang semakin digital dan berorientasi keberlanjutan, diusulkan mata kuliah pendukung seperti Digital Fashion Design, Product Development, Digital Marketing, Zero Waste Fashion, dan Fashion Upcycle sebagai penguatan kompetensi lulusan menghadapi perkembangan global dan transformasi industri fashion.

Pelaksanaan restrukturisasi ini  diperkuat melalui kegiatan review kurikulum pada 26 September 2024 dengan menghadirkan Prof. Dr. Wahono Widodo, M.Si. sebagai pemateri. Kegiatan ini dihadiri oleh tim pengembang kurikulum dan para dosen, serta menjadi forum penegasan arah pengembangan kurikulum pascarestrukturisasi agar lebih konsisten dengan visi program studi dan kebutuhan penguatan mutu akademik. Melalui review ini, program studi tidak hanya melakukan penyempurnaan administratif kurikulum, tetapi juga memastikan bahwa rancangan kurikulum benar-benar memiliki landasan konseptual yang kuat sebagai pijakan penyusunan mata kuliah, strategi pembelajaran, dan capaian pembelajaran lulusan.

Pada review kedua ini, pemateri menekankan pentingnya karakter atau identitas akademik yang khas sebagai turunan dari keunggulan Program Studi D4 Tata Busana. Identitas ini dikonseptualisasikan melalui penguatan fashion design berbasis seni dan budaya lokal dan keberlanjutan, sehingga lulusan tidak hanya siap memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga memiliki keunggulan pembeda yang jelas dibandingkan program studi sejenis. Dengan demikian, kurikulum diarahkan tidak sekadar “link and match” dengan dunia kerja, melainkan juga membangun positioning prodi melalui kekuatan lokal (nilai budaya, estetika, dan kearifan) serta orientasi keberlanjutan, yang pada akhirnya memperkuat daya saing lulusan di industri kreatif baik pada level nasional maupun global.

Evaluasi kurikulum tersebut diperkuat oleh Tracer Study sebagai evidensi luaran dan relevansi pembelajaran. Pada Tracer Study 2024, response rate mencapai 100% (22 alumni) dengan capaian gold standard 85,45%; status alumni menunjukkan 50,00% bekerja, 40,91% berwirausaha, dan 9,09% sedang mencari kerja, serta masa tunggu kerja paling banyak pada bulan 0–1 setelah lulus, dengan IPK rata-rata 3,74; tracer juga menegaskan adanya gap kompetensi (kebutuhan lebih tinggi dibanding penguasaan), sehingga penguatan pembelajaran praktik (magang, praktikum, kerja lapangan) menjadi relevan sebagai tindak lanjut kurikulum. 

Pada Tracer Study 2025, response rate juga 100% (26 alumni) dan 83,85% alumni mencapai kategori gold standard, dengan komposisi 60,77% bekerja, 19,23% berwirausaha, dan 3,85% studi lanjut serta masa tunggu kerja sangat cepat (lebih dari separuh memperoleh pekerjaan pada 0–1 bulan dan mayoritas terserap dalam ≤4 bulan); namun temuan pentingnya adalah adanya gap pada penggunaan teknologi informasi, pengembangan (development/product development), dan Bahasa Inggris, sehingga rekomendasi restrukturisasi yang mengarah pada penguatan CAD/CLO, product development, digital fashion design, serta dukungan kompetensi global menjadi semakin kuat dan berbasis data.

Rekap CPL Program Studi D4 Tata Busana
Universitas Negeri Surabaya
Nama Matakuliah Sks Capaian Lulusan (CPL) Total
CPL1CPL2CPL3CPL4CPL5CPL6CPL7CPL8CPL9CPL10
Konsep Desain Mode 3 50% 50% 100 %
Desain Modest Fashion 3 33.33% 16.67% 33.33% 16.67% 100 %
Fotografi Fashion & Media Digital 3 33.33% 66.67% 100 %
Busana Pesta 3 40% 20% 20% 20% 100 %
Fashion Product Development 6 33.33% 33.33% 33.33% 99.99 %
Statistik 2 70% 30% 100 %
Display 2 50% 50% 100 %
Metode Penelitian 3 12.5% 87.5% 100 %
Fashion Illustration 3 33.33% 66.67% 100 %
Sejarah Mode 2 25% 50% 25% 100 %
PENGETAHUAN BAHAN TEKSTIL 2 13.51% 48.65% 35.14% 2.7% 100 %
Computer Aided Design (CAD) 3 20% 10% 30% 40% 100 %
Ragam Hias Indonesia 3 18.75% 37.5% 43.75% 100 %
Budaya Indonesia 2 50% 50% 100 %
Pewarnaan Alam 3 20% 40% 40% 100 %
Handicraft 3 50% 50% 100 %
Konstruksi Pola Busana 3 33.33% 66.67% 100 %
Fashion Branding & Marketing 2 16.67% 16.67% 66.67% 100 %
Koleksi Ready to Wear 3 20% 20% 60% 100 %
Teknologi Menjahit & K3 3 50% 25% 25% 100 %
Produksi Busana Wanita 3 25% 25% 50% 100 %
Pengantar Industri Fashion 2 57.89% 42.11% 100 %
Desain Dasar 2 50% 25% 25% 100 %
Bahasa Inggris 1 2 40% 60% 100 %
Komunikasi dan Layanan Prima 2 54.55% 45.45% 100 %
Draping 3 25% 25% 25% 25% 100 %
Kriya Tekstil 3 12.5% 43.75% 43.75% 100 %
BATIK 3 20% 80% 100 %
BAHASA INGGRIS 2 2 53.85% 46.15% 100 %
Desain Busana Nasional 3 27.27% 9.09% 63.64% 100 %
MPK - Aksesoris 3 50% 50% 100 %
MPK - Fashion Portfolio 3 20% 80% 100 %
Busana Industri 3 66.67% 33.33% 100 %
METODOLOGI PENELITIAN DESAIN 3 85.71% 14.29% 100 %
Proyek Independen: Mengembangkan Laporan 3 75% 25% 100 %
Ragam Hias Indonesia 2 10% 30% 60% 100 %
Casual Wear 3 25% 25% 25% 25% 100 %
Proyek Independen: Mengembangkan Perangkat 4 50% 25% 25% 100 %
Proyek Independen: Mendesiminasi Program 3 50% 25% 25% 100 %
Proyek Independen: Mengevaluasi Program 3 40% 20% 40% 100 %
Proyek Independen: Melaksanakan Program 4 25% 50% 25% 100 %
Zero Waste Fashion 3 25% 25% 25% 25% 100 %
Product Development 3 25% 25% 25% 25% 100 %
Art Embroidery 3 50% 50% 100 %
Digital Marketing 3 20% 60% 20% 100 %
kewirausahaan 2 31.25% 6.25% 62.5% 100 %
manipulating fabric 3 25% 25% 50% 100 %
Desain Dasar 3 50% 25% 25% 100 %
Rekayasa Tekstil 3 40% 20% 40% 100 %
Landasan Perancangan Kurikulum Program Studi D4 Tata Busana
Universitas Negeri Surabaya

Pengembangan kurikulum yang ideal dilakukan dengan menggunakan landasan yang kuat, baik secara filosofis, sosiologis, psikologis, historis, maupun yuridis. Hal ini untuk memastikan bahwa kurikulum yang dihasilkan merupakan
produk sistem berpikir yang komprehensif dan sistemik dalam mengakomodasi seluruh aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Aktivitas yang dimaksud tidak hanya berupa aktivitas akademik namun juga nonakademik
guna menunjang pencapaian visi dan misi UNESA. Landasan pengembangan kurikulum dijabarkan sebagai berikut.
1. Filosofis
Landasan filosofis merupakan asumsi atau rumusan yang didapatkan dari hasil berpikir secara mendalam, analitis, logis, dan sistematis dalam perencanaan, pelaksanaan, pembinaan dan pengembangan kurikulum. Landasan filosofis pengembangan kurikulum lembaga pendidikan merupakan landasan yang berdasarkan filsafat terkait makna atau hakikat pendidikan. Beberapa filosofi dalam pengembangan kurikulum di antaranya perenialisme, esensialisme, eksperimentalisme, rekonstruksionisme, romantik naturalisme dan eksistensialisme perlu diakomodasi untuk menunjang pencapaian visi dan misi. Pengembangan kurikulum UNESA menganut filosofi eklektik, yaitu memperhatikan kelebihan dari landasan filosofi-filosofi yang sesuai (Akinsanya, 2014) untuk pencapaian visi UNESA sebagai universitas kependidikan yang tangguh, adaptif, dan inovatif yang berbasis kewirausahaan.
2. Sosiologis
Landasan sosiologis mengarahkan kajian pengembangan kurikulum dikaitkan dengan kondisi dan kebudayaan masyarakat setempat. Landasan ini digunakan karena mahasiswa berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Perubahan dan perkembangan nilai yang ada di masyarakat akan mempengaruhi tatanan kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, kurikulum harus dapat
menjawab tantangan, tuntutan, dan perkembangan masyarakat baik lokal maupun global sebagai sasaran pengguna lulusan yang dihasilkan dari kurikulum yang dikembangkan. Sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia, kurikulum UNESA dikembangkan berdasarkan kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang berdasarkan Pancasila dengan pengamalan nilai yang terkandung di dalamnya. Indonesia juga merupakan bangsa yang besar dengan kemajemukan budaya, maka kurikulum ini perlu mengakomodasi hal tersebut untuk memperkuat budaya nasional. Perkembangan budaya dengan kearifan lokal tempat UNESA tumbuh dan berkembang menjadi ciri khas yang menampilkan karakteristik UNESA sebagai bagian dari kemajemukan masyarakat Indonesia yang luas. Di samping itu, kurikulum UNESA juga mempertimbangkan perkembangan masyarakat global sehingga para lulusannya diharapkan mampu untuk
berkolaborasi dan berkompetisi di level internasional.
3. Psikologis
Landasan psikologis adalah landasan berdasarkan kondisi karakteristik manusia sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku baik kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai akibat interaksi individu dengan
lingkungannnya. Aspek psikologis peserta didik berpengaruh terhadap proses pembelajaran (Slavin, 2006). Mengingat pentingnya aspek psikologis, pengembangan kurikulum perlu mengakomodasi kondisi peserta didik agar pembelajaran dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Mahasiswa UNESA secara psikologis berada pada tahap berpikir formal, tahap perkembangan moral yang pada umumnya telah mencapai pascakonvensional (Kohlberg & Gilligan, 2014), dan tahap perkembangan sosial yang telah mencapai usia remaja dengan karakteristik yang khas. Untuk itu, kurikulum UNESA yang dikembangkan perlu memperhatikan tahap-tahap perkembangan psikologi mahasiswa. Di samping itu, mahasiswa merupakan individu yang berada dalam proses perkembangan yang bersifat dinamis sesuai dengan karakteristik dan tingkat kematangannya. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum UNESA perlu mencermati dinamika perkembangan tersebut untuk menghasilkan kurikulum yang membuat mahasiswa merasa nyaman dan terlayani untuk memperoleh hasil yang maksimal. Hal tersebut dapat diakomodasikan dalam bentuk implementasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan yakni pendalaman ilmu sebagai penguatan keilmuan dan kebebasan cara belajar sebagai bentuk penghargaan humanisasi dan demokratisasi belajar. Melalui pendekatan pembelajaran heutagogy dan seamless learning, pengembangan kurikulum di UNESA akan dapat mendorong mahasiswa sebagai pebelajar dewasa yang bertanggungjawab secara mandiri terhadap proses pembelajaran yang dilakukan tanpa adanya pembatasan-pembatasan terhadap subjek, ruang dan waktu belajar melalui pemanfaatan transformasi digital sehingga mampu melaksanakan pembelajaran sepanjang hayat secara berkelanjutan.
4. Historis
Secara historis, pengembangan kurikulum UNESA berjalan searah dengan pengembangan lembaga yang diawali dari kursus guru B-I dan B-II pada tahun 1950-an, yang selanjutnya berkembang menjadi Akademi Pendidikan Guru hingga FKIP dan IKIP Surabaya. Pada perkembangan selanjutnya IKIP Surabaya berubah menjadi universitas sebagai perluasan mandat untuk mengembangkan program nonkependidikan di samping program kependidikan yang telah lama
dilakukan. Dengan demikian pengembangan kurikulum dilakukan pula mengikuti proses tersebut seiring dengan peraturan dan perundangan yangberlaku saat itu.

Kurikulum di UNESA mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Perkembangan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan aturan yang berlaku saat pengembangan kurikulum dilakukan. Misalnya ketika berlaku kurikulum bersifat nasional yang ditentukan oleh konsorsium pendidikan, kurikulum yang dihasilkan belum mengarah pada pencapaian visi dan misi UNESA. Ketika peraturan tentang pengembangan kurikulum berlaku, maka kurikulum mulai ditata sesuai dengan arah dan prosedur yang benar. Berdasarkan landasan historis tersebut, proses pengembangan kurikulum perlu memperhatikan berbagai macam kelebihan dan kelemahan serta karakteristik kurikulum yang pernah dihasilkan dan dipergunakan. Hal ini perlu dijadikan landasan untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik dengan memperhatikan kondisi dan peraturan yang berlaku.
 

5. Yuridis
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada landasan hukum yang berlaku agar kurikulum yang dihasilkan memiliki keabsahan untuk diberlakukan. Daftar acuan landasan hukum dalam pengembangan kurikulum
UNESA ini disajikan pada Bab I bagian D. Berdasarkan uraian di atas, kurikulum di UNESA dikembangkan dengan
mempertimbangkan aspek-aspek, meliputi: visi, misi, dan tujuan UNESA, isu-isu
terkait pengembangan sumber daya manusia dan perkembangan IPTEKS, serta
landasan filosofis, sosiologis, psikologis, historis, dan yuridis. Secara visual,
pengembangan kurikulum di UNESA dapat disajikan pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Aspek-aspek yang mendasari Pengembangan Kurikulum UNESA

22
C. Prinsip Pengembangan Kurikulum
Kurikulum yang tangguh dihasilkan dari sebuah proses pengembangan
kurikulum yang mengandung prinsip relevan, fleksibel, berkesinambungan, efisien,
dan efektif. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum di UNESA juga mengikuti
prinsip-prinsip tersebut untuk mewujudkan visi dan misi UNESA. Secara umum,
prinsip-prinsip pengembangan kurikulum UNESA disajikan pada Gambar 2.6 dan
dideskripsikan pada paragraf-paragraf berikut.

Gambar 2.6. Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Kurikulum UNESA
1. Relevansi
Kurikulum yang dikembangkan harus memiliki keterkaitan antara bidang
ilmu (discipline/content) dengan kebutuhan masyarakat (social needs) sebagai
pengguna lulusan. Keterkaitan yang dimaksudkan bahwa kurikulum dikembangkan
selain untuk memenuhi kebutuhan pengguna/pasar juga merupakan implementasi
dari kajian mendalam dari bidang ilmu yang dikembangkan. Oleh karena itu,
pengembangan kurikulum memperhatikan kebutuhan masyarakat dan pengguna,
serta perkembangan IPTEKS.
2. Fleksibilitas
Kurikulum yang dikembangkan memiliki keluwesan terhadap implementasi
di lapangan. Lapangan yang dimaksud adalah implementasi kurikulum tersebut
dalam pembelajaran atau hasil kurikulum tersebut di dunia kerja yang
diimplementasikan oleh para lulusan hasil dari kurikulum tersebut. Prinsip
keluwesan ini digunakan agar kurikulum ideal yang dikembangkan dapat
disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

3. Kontinuitas
Kurikulum yang dikembangkan memiliki prinsip kontinuitas
(kesinambungan) secara horisontal antarbagian disiplin ilmu. Selain itu, kurikulum
yang dikembangkan juga mempertimbangkan kemampuan untuk berkembang ke
level lebih tinggi. Hal ini diperlukan agar kurikulum tidak terkesan terputus
antarbagian atau merupakan lingkaran yang berpusat di satu tempat saja.
4. Efisiensi
Kurikulum yang dikembangkan perlu memperhatikan aspek efisiensi untuk
memperoleh daya guna dalam sistem secara keseluruhan. Efisiensi dalam
pengembangan kurikulum dilakukan melalui pemilihan matakuliah yang sesuai
profil lulusan, pemberian beban kerja mahasiswa, pemanfaatan waktu, tenaga,
biaya, dan sumber daya lain secara cermat dan tepat untuk mencapai hasil yang
optimal sesuai dengan tujuan.
5. Keefektifan

Kurikulum yang dikembangkan perlu mencermati tujuan secara sungguh-
sungguh dalam upaya pencapaiannya dengan memafaatkan/mengelola proses dan

sumber daya yang tepat untuk mencapai hasil yang optimal sesuai dengan tujuan.
Evaluasi berkala perlu dilakukan untuk memantau keefektifan kurikulum yang
telah dikembangkan.